AS Dorong Embargo Minyak terhadap Korut

Korea Utara, PBB

AFP PHOTO / KCNA

 

AMERIKA Serikat (AS), kemarin, meminta PBB menjatuhkan embargo minyak terhadap Korea Utara (Korut) dan membekukan aset milik pemimpin ‘Negeri Juche’ Kim Jong-un. Seruan Washington menimbulkan benturan potensial dengan dua sekutu utama rezim Korut, Rusia dan Tiongkok, mengenai cara merespons uji coba nuklir keenam dan yang terbesar Pyongyang, pekan lalu.

Sebuah rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang diperoleh AFP menuntut tidak hanya larangan pasokan minyak dan gas ke Korut, tetapi juga mengakhiri ekspor tekstil dan pembayaran kepada pekerja migran Korut. Hal itu bertujuan memotong pendapatan ke rezim Kim. Beijing telah lama enggan mengambil tindakan yang dapat memicu ketidakstabilan atau eksodus pengungsi di perbatasannya.

Sementara itu, Rusia telah menolak sanksi ekonomi berat yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan. Rezim Tiongkok, tempat Pyongyang mengimpor hampir setengah dari seluruh kebutuhan minyak dan gas, belum memberikan indikasi soal sikap mereka terhadap rencana itu. ‘Negeri Panda’ sejauh ini baru menegaskan dukungan mereka terhadap negosiasi-negosiasi damai. “Tiongkok tidak memiliki hubungan yang luar biasa dengan Korea Utara, tetapi mereka punya traktat perdamaian dan persahabatan sejak 1961,” kata Joseph DeTrani, mantan utusan khusus untuk Pembicaraan Enam Pihak dengan Korut.

Sementara itu, dalam sebuah sambungan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden AS Donald Trump, kemarin, menegaskan tindakan militer terhadap Korut bukanlah ‘opsi pertama’ dan mendorong opsi diplomatik. Akan tetapi, dia mengindikasikan jalan lain untuk ‘menekan’ Korut akan diambil sebelum tindakan militer diputuskan. “Tentu itu (serangan militer) bukan pilihan pertama kami. Namun, kami akan melihat apa yang terjadi,” kata Trump saat menaiki Marine One di Gedung Putih.

Setelah rezim paria Kim mengklaim mereka melakukan tes bom hidrogen yang sukses, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan Washington akan meminta pemungutan suara di dewan mengenai sanksi baru pada 11 September. Segaris dengan AS, Pakta Pertahan Atlantik utara (NATO) menuntut penerapan sanksi yang lebih keras terhadap Korut dan meminta upaya baru untuk menarik negara paling tertutup di dunia tersebut menjauh dari jalannya yang ‘mengancam dan mendestabilisasi’. NATO mengatakan ancaman yang diciptakan Pyongyang menuntut sebuah ‘respons terpadu’ dari masyarakat internasional.

Rayakan keberhasilan
Korut menggelar perayaan massal untuk para ilmuwan yang terlibat dalam uji coba nuklir terbesar yang diklaim sukses oleh negara itu sejauh ini. Perayaan dilakukan dengan pesta kembang api dan demonstrasi massa di Pyongyang. Warga Pyonyang, ibu kota Korut, berjajar di jalan-jalan, kemarin, untuk melambaikan pom-pom merah muda dan ungu serta menyoraki konvoi bus yang membawa para spesialis nuklir ke kota, dan melontarkan konfeti ke arah mereka saat mereka berjalan ke Lapangan Kim Il-sung.

‘Kami menawarkan penghormatan terbesar kepada Kamerad Kim Jong-un, pemimpin tertinggi yang membawa kita ke prestasi terbesar dalam sejarah masyarakat Korea’, demikian bunyi tulisan di satu spanduk di alun-alun, tempat puluhan ribu orang berkumpul. Spanduk yang lain, dengan sebuah gambar rudal, memproklamasikan, ‘Tidak ada yang bisa menghentikan kita di jalan kita menuju masa depan’. (AFP/I-2)

Sumber: mediaindonesia.com

 

237total visits,1visits today

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishBahasa Indonesia