Bertemu Perempuan Indonesia Pelatih Terjun Payung di 46 Negara

Pelatih Terjun Payung, Skydiving, Naila Novaranti

Naila Novaranti (35) atlet skydiving sekaligus pelatih terjun payung di 46 negara. (Facebook Naila Novaranti)

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Naila Novaranti (35) tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pelatih terjun payung dan atlet skydiving. Namun itulah profesi yang ia lakukan sekarang.

Semua berawal dari tujuh tahun lalu, ketika dirinya hanya bisa melihat para atlet penerjun turun dari udara, mendarat di sebelah kantornya.

“Saya itu dulu sekretaris di perusahaan minyak. Kemudian kerja di perusahaan parasut di Amerika Serikat. Karena lingkungannya bersebelahan persis dengan lapangan mendarat, saya lihat sepertinya enak ya terjun,” kata Naila yang ditemui di acara WTPForum di Pisa Kafe, Menteng, Jakarta, Jumat (25/8/2017).

Akhirnya sekitar tahun 2009, ia mencoba skydiving, dari awal terjun tandem (berdua), Naila mulai serius menekuni skydiving. “Naila pertama loncat buruk sekali, posisi tubuhnya buruk. Seperti helikopter, sangat tidak aman,” kata Robert pelatih Naila yang hadir bersamanya.

Meski begitu Robert mengatakan Naila tidak menyerah, malahan ibu dari tiga orang anak ini belajar skydiving dengan tekun di tabung angin alias indoor skydiving.

Usahanya tak sia-sia, saat ini Naila sukses menjadi atlet skydiving internasional, bergabung bersama tim skydiving Simba.

Naila Novaranti (35) atlet skydiving sekaligus pelatih terjun payung di 46 negara. (Facebook Naila Novaranti)

 

Naila adalah satu-satunya perempuan Indonesia yang aktif di tim Simba dam rutin mengikuti kejuaraan skydiving dunia. Tak hanya itu kini ia juga melatih anggota Kopassus dan menjadi pelatih terjun payung di 46 negara lain.

Namun di balik kesuksesannya, ada risiko yang mengintip setiap kali Naila terjun. “Tangan dan kaki saya pernah patah, tukang ekor bermasalah. Dua minggu lalu malah parasut saya tak bisa dibuka, padahal sudah dekat 700 kaki dari darat,” kata Naila.

Ditanya apakah kapok? Naila menjawab kapok, saat ada kecelakaan yang terjadi. Namun pada akhirnya rasa kapok dikalahkan dengan rasa sayang atas perjalanannya yang cukup panjang di dunia olahraga ekstrem ini.

Kini ia dan tim telah menjadi jawara di pertandingan skydiving tingkat AA, tingkat tertinggi adalah AAA, satu tingkat di atas AA.

“Kalau ditanya takut atau tidak sampai sekarang saya juga masih takut, tetapi kalau sudah terjun terus lihat hasil fotonya bagus jadi senang,” kata perempuan yang selalu menyematkan lambang bendera Indonesia di bagian lengan kostumnya.

Sumber: kompas.com
Penulis: Silvita Agmasari
EditorI : Made Asdhiana

 

455total visits,1visits today

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishBahasa Indonesia