Kapolsek Galang, Medan, Sumatera Utara

Kapolsek Ini Minta Maaf Pakai Surat Miskin Daftarkan Anak ke SMA

Kapolsek Galang, Medan, Sumatera Utara
Kapolsek Galang AKP Marhalam Napitupulu (img: Facebook/Napitupulu Marhalam)

 

TRIBUNNEWS.COM – Kapolsek Galang AKP Marhalam Napitupulu, yang memasukkan anaknya ke SMA Negeri 1 Medan melalui jalur rawan melanjutkan pendidikan (RMP) menggunakan surat miskin, bersedia memindahkan anaknya.

Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Disdik Sumut) mengambil kebijakan mengeluarkan dua siswa dari SMAN 1 Medan, karena tak berhak menggunakan jalur RMP. Sebab, secara ekonomi dua siswa tersebut tergolong mampu.

“Untuk kebaikan semua pihak, izinkanlah kami undur diri dari sekolah SMAN 1 Medan, dan anak kami NF dapat diberi kesempatan mengikuti proses belajar mengajar pada Sabtu dan Senin,” ujar Marhalam pada pesan singkat Whatsapp, Jumat (8/9).

Dalam keterangan tertulisnya, Marhalam meminta waktu tersebut, supaya anaknya dapat menyelesaikan urusan sebagai bendahara kelas di kelasnya, dan pamit kepada teman-teman sekelasnya.

“Terima kasih dan mohon maaf, jika ada langkah dan sikap anak kami yang kurang berkenan selama bersekolah di SMAN 1 Medan,” tambah Marhalam.

Sikap Marhalam tersebut diapresiasi Humas SMAN 1 Medan, Buang Agus.

“Iya, salut untuk beliau. Beliau dengan lapang dada mengikuti keputusan untuk memindahkan anaknya, permintaan supaya anaknya belajar hingga Senin saya kira tidak masalah,” ujarnya, Jumat.

Ia mengatakan, permintaan tersebut sudah disampaikan kepadanya melalui sambungan telepon, dan SMAN 1 sudah maklum dan akan memberi kesepatan kepada anaknya melakukan perpisahan dengan teman-temannya.

Sementara itu, pengusaha event organizer, Yandrinal Amiruddin yang juga memasukkan anaknya menggunakan surat miskin ke SMAN 1 Medan menolak anaknya dipindah ke SMA swasta, dan akan mengambil langkah hukum.

Atas langkah hukum tersebut, Yadrinal belum memberikan tanggapan. Saat dihubungi Tribun Medan via telepon seluler berkali-kali pada jam yang berbeda, Yandrinal tidak mengangkat meskipun teleponnya aktif.

Namun, berdasar surat yang disampaikan Yadrinal ke SMAN 1 Medan, sebagai responsya menolak anaknya dipindahkan, tertulis Yandrinal merasa anaknya masuk ke SMAN 1 Medan dengan seleksi yang ketat dan verifikasi yang panjang dari berbagai instansi.

Kemudian keputusan untuk mengeluarkan anaknya dari SMAN 1 Medan adalah hal yang tendensius, tidak adil dan emosional, sehingga mereka tidak akan mematuhi keputusan yang dikeluarkan SMAN 1 Medan, demi mempertahankan kepentingan anaknya.

Usia anaknya turut dijadikan Yandrinal sebagai alasan untuk tidak mau memindahkan anaknya.

Menurutnya, usia anaknya yang belia belum siap jika harus dipindahkan dari SMAN 1 Medan, karena akan menggangu psikologisnya.

Yandrinal juga beralasan anaknya tidak tahu-menahu permasalahan tersebut. Anaknya, kata Yadrinal, sangat polos. Dan, masuk ke SMAN 1 Medan adalah hidup baru bagi anaknya, sehingga siapapun tak bisa menghentikan semangat belajarnya di sekolah favorit tersebut.

Sumber: tribunnews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishBahasa Indonesia