Asep Kambali, Museum, Sejarah

Museum Yang Kesepian

KOTA BANDUNG, ASEPNEWS.com – Pengalaman berkunjung ke museum bagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah pengalaman biasa, tidak untuk diingat dan cukup sekali seumur hidup. Pasalnya, kalau ditanya, kapan terakhir ke museum? Jawabanya, dulu waktu SD atau SMP atau SMA. Itu juga sudah banyak lupanya, ketimbang ingatnya.

Asep Kambali, Museum, Sejarah
Asep Kambali sejarawan muda Indonesia saat Live di Indosiar (Foto: Asep Ruslan)

Ketika kunjungan ke museum dianggap cukup sekali dan tidak untuk yang kedua kali.

Selain jarang meninggalkan kesan positif, pengalaman jalan-jalan ke museum lebih banyak kesan terbebani karena tugas sekolah.

“Anak-anak kerap diminta mengisi lembaran LKS yang ‘njelimet,’ dan jawabannya harus dicari dari ratusan panel dan ribuan koleksi di dalam vitrin dan diorama museum. Tak jarang, banyak anak yang akhirnya ketinggalan rombongan karena harus membaca lebih lama dari sekian banyak label koleksi yang ada,” ungkap Asep Kambali S.Pd., M.I.K, sejarawan muda Indonesia, aktivis pelestarian sejarah dan budaya, serta pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) saat berbincang dengan Asepnews di rumahnya, Senin (6/7/2020).

Berkunjung ke museum harusnya bisa memberikan kesan yang menyenangkan tetapi kenyataan malah sebaliknya. Pemandu museum kerap kewalahan, karena dalam satu putaran mereka harus memandu ratusan siswa.

“Berkunjung ke museum nyaris tidak memberikan kesan menyenangkan, karena tekanan tugas dari sekolah dan padatnya jadwal tour, mengunjungi satu destinasi ke destinasi lainnya. Akibatnya, tour menjadi tergesa-gesa, karena anak-anak harus berlari-lari untuk mencari jawaban. Tak sedikit dari mereka yang mengeluh kecapean,” terang Kang Asep panggilan akrab pendiri Paguyuban Asep Dunia (PAD) organisasi yang anggotanya ribuan orang punya kesamaan nama Asep dan tersebar di seluruh dunia.

Museum Geologi Bandung (Foto: Asep Ruslan)
Salah satu asset dunia di museum Geologi Bandung (Foto: Asep Ruslan)

“Bagaimana bisa ia melayani siswa sebanyak itu? Para pemandu museum rata-rata sudah senior dengan pengalaman yang relatif lama, belasan hingga puluhan tahun. Namun, perlu disadari berbeda usia, beda pula jaman dengan siswa yang ia layani. Perbedaan (gap) jaman itu kerap menyebabkann miskomunikasi/mispersepsi dalam proses pemanduan jika penyelenggara museum tidak melakukan upgrading SDM,” tuturnya.

Saat ini, banyak dari kita yang sependapat bahwa berkunjung ke museum cukup sekali, dan tidak untuk yang kedua kali. Kenapa itu bisa terjadi? Kang Asep menjelaskan.

“Hospitality di museum itu sangat penting. Rasa capek dan pegal terobati saat pelayanan museum yang menyenangkan. Greeting: “Selamat pagi, selamat datang di museum kami! Ada yang bisa kami bantu?” kerap tidak didapatkan jika kita berkunjung ke museum. Namun, sebaliknya jika kita pergi ke bank, pasti berbeda,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishBahasa Indonesia